Selepas 1999 terutama sekali pada tahun 2014, yang ditandai dengan maraknya money politic sebagai salah satu bentuk kebrutalan dalam penyelenggaraan pemilu, memang terjadi gambaran yang menunjukkan ketidakpercayaan publik kepada kandidat yang diusung dalam pemilu. Ketidakpercayaan ini menggerus partisipasi masyarakat, begitu papar Ratna Dewi dalam diskusi. Namun, tidak begitu halnya dengan pemilih perempuan maupun kandidat perempuan dalam arena pemilu.
Menurut Ratna Dewi, justru pemilih loyal dan terbanyak aktif merupakan pemilih perempuan. Rupanya perempuan tidak kecewa terhadap kondisi pemilu dan hasilnya yang akhir-akhir ini silang sengkarut. Pemilih perempuan inilah yang berperan mensukseskan munculnya tokoh-tokoh politik yang terpilih di eksekutif maupun legislatif. Begitu pula dengan kandidat perempuan dalam pemilihan kepala daerah, maupun dalam formatur penyelenggara pemilu juga ada kecenderungan naik.

Soal perempuan dalam pemilu, Kaka Suminta menambahkan, bahwa masih terjadi ketidakadilan gender dalam pemilu maupun hasil pemilu yang berupa kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan. Bagi Kaka, ketidakadilan gender merupakan manifestasi ketidakadilan yang diciptakan oleh sistem dan pembuat kebijakan. Perempuan dalam hal ini merupakan objek dari ketidakadilan tersebut yang paling menanggung akibat dari ketidakadilan. Kaka menyayangkan bahwa meskipun telah banyak kandidat perempuan maupun perempuan yang telah terpilih di eksekutif maupun legislatif, namun masih perlu dicermati, apakah kebijakannya juga mencerminkan kebijakan yang pro kepada perempuan?
Baik Kaka Suminta maupun Ratna Dewi sepakat dengan mengutip pendapat tokoh bahwa saat ini, meskipun belum orang-orang yang terbaik yang terpillih untuk berkuasa, setidaknya dengan ikut memilih, kita dapat mencegah yang terburuk untuk berkuasa. Bagi mereka berdua, apapun kondisinya berpartisipasi dalam pemilu serta hajatan politik itu wajib, sebab mereka berdua tidak menginginkan kita buta secara politik, buta secara politik adalah buta yang paling berbahaya –kutipan.
