Isi Petisi Penolakan Puisi Esai Nasional Denny J.A.
Terkait Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional yang digagas Denny Januar Ali, selanjutnya disingkat DJA, yang rencananya melibatkan 170 penulis, penyair, jurnalis, dan peneliti di 34 provinsi di Indonesia, kami memandang program tersebut bermasalah karena sebab-sebab berikut:
- Klaim puisi esai sebagai genre baru yang dipelopori DJA adalah penggelapan sejarah.
Puisi esai menurut Thomas Gray (http://www.thomasgray.org/resources/gllitterms.shtml) adalah komposisi ekspositori pendek dalam puisi, yang biasanya ditujukan untuk khalayak umum.
Dalam sejarah kesusastraan dunia, Alexander Pope, penyair Inggris Abad XVIII, telah menuliskan bentuk semacam ini dalam buku berjudul An Essay on Man. Pope menuliskan esai filosofis dengan bentuk puisi, menggunakan kuplet dengan pentameter iambik. Terdiri dari empat epistel (bab) yang membicarakan pelbagai topik tentang kemanusiaan.
Fakta ini meruntuhkan klaim DJA dalam kata pengantar proyek buku puisi esainya yang pertama, Atas Nama Cinta yang dikutipkan sebagai berikut:
“Kebutuhan ekspresi kisah ini membuat saya memakai sebuah medium yang tak lazim. Saya menamakannya “puisi esai”. Ia bukan esai dalam format biasa, seperti kolom, editorial atau paper ilmiah. Namun, ia bukan juga puisi panjang atau prosa liris. Medium lama terasa kurang memadai untuk menyampaikan yang dimaksud.”
(Denny JA, 2012:11)
Kecacatan klaim tersebut rupanya tidak menghentikan DJA untuk kembali mendorong paksa konsep puisi esai yang bermasalah tersebut ke dalam lingkungan pembicaraan sastra dan sastrawan Indonesia melalui Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional yang digagasnya.
- Puisi Esai DJA bukanlah puisi esai.
DJA bersikeras menyebut bentuk yang digagasnya sebagai puisi esai, padahal karakteristik yang dipakai adalah karakteristik puisi naratif, dengan plot, tokoh, dan ceritanya. Catatan kaki yang disyaratkan sebagai ciri ke-esai-an puisi esai juga bukan ciri utama atau keharusan esai. Esai kerap tak memiliki catatan kaki. Mendukung program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional DJA sama artinya dengan mendukung kekeliruan definisi dan konsep tersebut, yang pada gilirannya merupakan tindak perusakan sastra sebagai kajian keilmuan.
- Rekam jejak penggagasnya yang bermasalah.
Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional ini bukanlah proyek pertama yang pernah dibuat DJA. Sebelumnya, DJA mensponsori proyek penulisan sebuah buku berjudul Membawa Puisi Ke Tengah Gelanggang yang sarat glorifikasi akan peran DJA sendiri dalam kesusastraan Indonesia. Buku yang penggarapannya ia serahkan kepada Narudin Pituin, seorang finalis duta bahasa yang kerap mendaku sebagai kritikus meski kompetensi dan kredibilitasnya dalam lapangan kritik sastra sendiri masih dipertanyakan banyak pihak. Buku tersebut dibagi-bagikan gratis (dikirim ke alamat rumah) kepada sejumlah sastrawan, yang kemudian berujung pada pengembalian buku, yang dimaksud oleh sebagian penerimanya sebagai bentuk protes.
