Monday, May 10, 2021
Home > Literasi > Opini/esai > Menyonsong Harganas XXV di Menado: Sudahkah Keluarga Kita Bahagia?

Menyonsong Harganas XXV di Menado: Sudahkah Keluarga Kita Bahagia?

Hari Keluarga Nasional (Harganas) semestinya jatuh pada 29 Juni tiap tahunnya. Namun kali ini, puncak acara Harganas ke XXV akan diperingati pada tanggal 7 Juli 2018 di Provinsi Sulawesi Utara. Apakah pembaca puan sekalian pernah mendengar tentang peringatan hari keluarga nasional ini? Baiklah mari kita ulas sedikit sejarahnya!

Berdasarkan catatan sejarah keluarga besar BKKBN, tanggal 29 Juni 1949 adalah peristiwa penting yang patut diingat sebagai momentum lahirnya gerakan keluarga berencana nasional. Di tanggal tersebut, para pejuang Indonesia berbondong-bondong kembali ke rumah dan keluarga mereka masing-masing setelah Belanda menyerahkan kedaulatan Bangsa Indonesia secara utuh pada 22 Juni 1949. Sebelumnya, para pejuang itu meninggalkan keluarga  karena harus bergerilya melawan penjajah dan merebut kemerdekaan bagi nusa dan bangsanya.

Kemudian pada tahun 1993, tanggal 29 Juni dicanangkan sebagai Hari Keluarga Nasional oleh Mantan Presiden Indonesia kedua, Alm. H. Soeharto, di Provinsi Bandar Lampung sehingga setiap 29 Juni haruslah dimaknai sebagai hari kembali kepada keluarga. Jika dahulu para pejuang kita kembali kepada keluarga setelah berperang melawan penjajah, di era saat ini, hari keluarga nasional dapatlah kita maknai sebagai hari di mana kita meluangkan waktu sejenak untuk berkumpul bersama keluarga di tengah rutinitas yang tak pernah berjeda. Patutlah kiranya kita mengevaluasi keluarga kita masing-masing, sudahkah keluarga kita menjadi keluarga yang ideal sebagaimana delapan fungsi yang dikehendakinya?

Apakah pembaca puan masih ingat dengan delapan fungsi keluarga tersebut? Keluarga pada hakikatnya dibentuk untuk menjalankan fungsi: agama, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, dan fungsi lingkungan.

Penerapan kedelapan fungsi ini bagi keluarga inti (ayah, ibu, dan anak) adalah wujud dari tanggung jawab orang tua kepada anak yang telah dilahirkannya. Anak tidak hanya dilahirkan dan dipenuhi kebutuhan ekonominya, tetapi lebih dari itu. Keluarga harus mampu menjadi unit terkecil dalam masyarakat yang melaksanakan fungsinya dengan baik untuk melahirkan generasi yang berkualitas. Itulah sebabnya keluarga berencana itu digalakkan, tidak seperti pada anggapan umum, yang menyatakan bahwa keluarga berencana (KB) itu adalah program pemerintah yang membatasi jumlah kelahiran dengan dua anak cukup. Keluarga berencana pada hakikatnya adalah wujud dari sebuah keluarga yang memiliki perencanaan.

Facebook Comments