Selain Jambo, ada Novi dan Dono, gajah-gajah yang dipersiapkan untuk menjadi anggota tim Flying Squad yang akan ditempatkan di Desa Pangkalan Gondai, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau. Desa ini berada di sekitar TN. Tesso Nilo dan merupakan daerah jelajah gajah yang berada di kawasan konservasi tersebut. Frekuensi kedatangan gajah liar ke pemukiman atau perkebunan di sekitar desa ini cukup tinggi oleh karena itu disepakati perlu dioperasikan satu tim Flying Squad yang dikelola oleh Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo.
Sementara dipersiapkan menjadi tim Flying Squad atau tim pengusir gajah liar, ketiga gajah ini bergabung dan berlatih bersama tim Flying Squad WWF-BBKSDA Riau. Mereka perlahan diperkenalkan dengan kegiatan rutin yang dilakukan oleh empat gajah Flying Squad WWF-BBKSDA Riau yang beroperasi di Desa Lubuk Kembang Bunga, seperti berpatroli dan pengusiran gajah liar. Biasanya rute patroli yang dilakukan meliputi Desa Lubuk Kembang Bungo-Pontian Mekar (Bukit Apolo)-Baserah-Tesso-Pangkalan Gondai-Lubuk Kembang Bungo.

Penyadartahuan Masyarakat, Upaya Mitigasi Konflik
Keberadaan gajah yang dianggap masyarakat sebagai hama bagi tanaman dan kebun milik mereka. Membuat laju kematian gajah semakin cepat dan meningkat. Belum lagi ancaman perburuan yang tidak bisa dihindarkan. Yuliantony menyebutkan, sebagai upaya untuk menekan kematian gajah di Tesso Nilo terutama akibat konflik adalah dengan membentuk tim patroli gabungan yang beroperasi secara berkala.
Tony menyebutkan, konflik antara gajah dan manusia dengan kondisi degradasi terhadap kawasan hutan yang kian menggila tentu saja tidak dapat diindari. “ Konflik tentu saja tidak dapat kita hindari, namun yang kita lakukan saat ini adalah meminimalisir adanya korban baik dari gajah dan manusia. Kita berharap bagaiamana gajah dan manusia dapa hidup berdampingan,” sebutnya.
Data yang didapatkan dari BTNTN, populasi gajah yang tersisa saat ini diperkirakan hanya tersisa 150-200 ekor di blok hutan Tesso Nilo. Kematian gajah dalam kurun waktu lima tahun terakhir di 2014. Tony menyebutkan data yang mereka miliki tercatat 19 ekor gajah mati di lanskap Tesso Nilo karena konflik dan perburuan. Jumlah ini meningkat tajam dibanding dua tahun sebelumnya. Kondisi lanskap Tesso Nilo yang mengalami alih fungsi masif telah menyebabkan hilangnya habitat alami gajah sumatera.
Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo ini memiliki tingkat keragaman hayati sangat tinggi. Ada sekitar 360 jenis flora tergolong dalam 165 marga dan 57 suku untuk setiap hektarnya. Tesso Nilo juga dikenal sebagai habitat bagi beraneka ragam jenis satwa liar langka, seperti Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), berbagai jenis Primata, 114 jenis burung, 50 jenis ikan, 33 jenis herpetofauna dan 644 jenis kumbang.
