Wednesday, May 19, 2021
Home > Literasi > Opini/esai > Sudahkah Membahagiakan Ibunda?

Sudahkah Membahagiakan Ibunda?

kekuatan-perkataan-dan-air-mata-ibu

Di Indonesia, setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Tak sedikit ucapan yang dikhususkan untuk ibu di media sosial. Ungkapkan perasaan di dunia virtual itu pun bermacam-macam. Mulai dari menggunakan bahasa daerah, bahasa Indonesia, hingga bahasa Inggris, katanya sih biar kekinian. Tak hanya kata-kata yang trenyuh, ada pula yang bergaya dengan sang ibu di akun medsosnya. Beberapa akun pun mengadakan perlombaan memperingati Hari Ibu dengan hastag tertentu. Perayaan tahunan semacam ini memang sebagai salah satu bentuk apresiasi terhadap jasa ibu yang selama ini telah merawat dan membesarkan anaknya tanpa pamrih.

Namun, apakah ungkapan-ungkapan perasaan ini juga disampaikan oleh warganet secara langsung di dunia nyata? Kenyataannya tak demikian, tak semua yang mengunggah ungkapan puitis di medsos buat sang ibu berani diucapkan secara langsung. Dalam artian, kecanggihan teknologi memunculkan fenomena baru bahwa euphoria dianggap sebagian warganet sebagai hal-hal kekinian, yang bila tak dilakukan akan terkesan tidak mengikuti perkembangan zaman.

Apakah ibu benar-benar butuh ucapan semacam  itu? Apakah luapan rasa cinta seseorang terhadap sang ibu hanya bisa diucapkan pada Hari Ibu saja? Tidak, bukan? Sekarang, mari kita merenung! Selama ini, sudahkah membahagiakan ibunda?

Ibu adalah wanita terhormat yang dicintai oleh anak-anaknya. Berbahagialah buat para ibu sedunia, juga calon para ibu yang senantiasa mencintai anak dalam kandungannya. Sebab cinta sang ibu pada anaknya sangatlah tulus (tanpa pamrih). Seorang ibu akan mencintai anaknya sejak dalam kandungan meski ia belum bisa melihat parasnya. Bahkan hingga seseorang dewasa, cinta dan perhatian ibu tak tergantikan. Lalu, bagaimana caranya membahagiakan ibu?

Bila Anda masih menuntut ilmu, cara membahagiakan sang ibu cukup sederhana. Dengarkan perkataan sang ibu dan jauhi segala larangannya! Terkadang, masih ada saja remaja yang keras kepala tidak mau mendengarkan perkataan ibunda. Ketika telah terjadi hal-hal yang tak diinginkan, timbullah penyesalan. Biasanya dari rasa sesal itu, anak remaja akan menyadari bahwa tak seharusnya ia membangkang perkataan ibunya. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Facebook Comments