Sunday, May 31, 2026
Home > Literasi > Resensi > Disorientasi Berujung Maut

Disorientasi Berujung Maut

Di tengah kebingungannya menghadapi kenyataan yang pahit, Said Mahran seperti kehilangan orientasi. Hidupnya hanya ia habiskan untuk menyusun siasat demi siasat untuk menghabisi anjing-anjing kudisan yang membuatnya menderita. Beberapa kali, ia mencoba membunuh anjing-anjing itu, namun dua kali peluru revolvernya salah sasaran ke orang-orang tak berdosa. Semua media membicarakannya. Said menjadi penjahat yang diburon polisi. Ia harus menyamar dan mengendap-endap agar identitasnya tak diketahui.

Meski Said seorang pencuri, pembunuh, sekaligus residivis, selalu ada sisi baik yang bisa ditiru. Said adalah seorang yang gemar membaca. Saat kepulangannya dari penjara, yang ia tanyakan pada Sana adalah buku-bukunya. Meski dijawab ketus, tentulah sejahat apa pun ayah kandung, haruslah tetap dihargai walaupun memang sekarang Sana lebih memilih tinggal di bawah pengasuhan ibunya dan Ilish.

Bila ditilik dari latar belakang keluarga Said, ternyata ayahnya adalah seorang yang religius. Almarhum ayahnya dahulu sering datang dan mengikuti pengajian bersama di rumah Syekh Ali al-Junaidy dengan mengajak Said kecil. Betapa tidak, ketika Said dilanda kebingungan yang menyayat, selain flat Nur, rumah Syekh Ali merupakan tujuan singgah untuk menenangkan diri. Bedanya, ketika Syekh Ali berdzikir, melakukan shalat, mengadakan pengajian seusai senja bersama masyarakat, Said hanya tertidur dan mendengkur tanpa peduli bahwa di rumah Syekh Ali sedang ada kegiatan religius.

Syekh Ali sering kali memberikan petuah yang sangat bijak. Ia menjamu Said dengan makanan-makanan enak meski ia tahu Said telah melakukan kesalahan pasca membunuh orang-orang tak bersalah. Seseorang sesungguhnya membutuhkan pegangan hidup yang mampu menenangkan diri tatkala dirundung keputusasaan. Namun yang ilahiah itu, belum ditemukan Said secara mendalam sehingga esensi religius masa lalu yang diturunkan kepadanya belum dapat berjalan sebagaimana yang diinginkan. Kontradiksi inilah yang kemudian memunculkan ironi bahwa nasib telah membawanya ke jalan lain yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Novel ini ditulis dengan sangat mengagumkan. Pembaca tidak mudah menebak alur dan dibuat berpikir dan bertanya-tanya. Siapakah lelaki yang ada di flat Nur yang ditemui Said itu? Jika pembacaannya tidak serius, pembaca dibuat bingung untuk menerka lelaki itu sebab Naguib Mahfouz tidak serta-merta menceritakan dengan bahasanya yang lugas.

Pengkhianatan memang terkadang memunculkan dendam tak berkesudahan. Ketika kesakitan bermunculan dan menyerang sesuatu yang di luar kendali, Said berniat menelusuri sebuah flat yang letaknya sangat dekat dengan kuburan. Ia melangkahi batu-batu nisan. Desing peluru bertaburan di udara dan suara-suara mengepungnya. Said terperosok ke dalam liang tanpa dasar.

Translate »