Dostoyevski sangat pandai menguraikan analisisnya mengenai pemahaman psikologis manusia. Buku ini termasuk novel dengan kategori bacaan berat sehingga meskipun sudah fokus membaca, kita akan berusaha mengulang kembali kalimat demi kalimat dan menelaahnya dengan saksama. Mengapa termasuk kategori bacaan berat? Karena titik fokusnya lebih kepada pemikiran-pemikiran yang terkadang paradoks, absurd, dan mengupas sisi lain dari manusia. Bagi pembaca yang tidak sabar, pasti akan merasa bosan dan barangkali akan berpaling ke buku yang lain. Selain itu, terdapat beberapa istilah asing yang tidak disertai catatan kaki.
Kebosanan lain yang akan pembaca temukan dalam bab I, yakni tokoh Aku sering mengulang-ulang kepastian matematis. Baginya, hidup ini bukanlah sebuah rumus matematika yang selalu penuh dengan kepastian, sebab selalu ada kemungkinan-kemungkinan lain yang akan selalu terjadi. Menurut Dostoyevski, salah satu kepastian yang paling ia percaya adalah kematian. Namun, Dostoyevski mampu mengubah hal-hal (yang di masa kini dianggap) negatif menjadi sesuatu yang positif. Misalkan baginya penyesalan dan penderitaan adalah suatu kenikmatan. Juga ia selalu bangga dengan kemiskinannya.
Baca juga: Nietzsche: Sang Pembunuh Tuhan yang Mencintai Takdirnya
Dalam beberapa hal, tokoh Aku juga mempertanyakan kebenaran sains. Menurutnya, bila dua ditambah dua sudah mutlak jawabannya empat, barangkali jawaban lima akan memberi warna bagi sudut pandang yang lain. Ia juga berpesan kepada pembaca agar lebih menggunakan akal daripada perasaan.
Sementara pada bab II, masih dengan sudut pandang Aku, ia mengisahkan kehidupannya saat berusia 24 tahun yang tengah bekerja di sebuah kantor pemerintahan. Bab ini berbeda jauh dengan bab pertama. Tokoh Aku mengisahkan masalah yang ia hadapi bersama kawan-kawannya (Zverkov, Simonov, Ferfitchkin, dan Trudolyubov). Tokoh Aku merasa dikucilkan oleh teman-temannya. Ia selalu merasa terasing di mana pun dia berada. Ia pun juga memiliki beberapa permasalahan dengan Apollon, pembantunya. Penolakan-penolakan lingkungan terhadap tokoh Aku membuat Aku kehilangan daya untuk mencintai dan dicintai sehingga ia mengorbankan cita-citanya dengan tujuan despotisme.
Pada bagian keenam hingga cerita ditutup, tokoh Aku bertemu dengan tokoh perempuan bernama Liza, yang merupakan seorang pelacur. Menariknya, penerjemah lebih senang menggunakan diksi “cabo” dibanding “pelacur”. Kehadiran tokoh ini tentu saja mengejutkan dan tidak disangka-sangka oleh pembaca. Lalu, di awal pertemuan, tokoh Aku jatuh cinta kepada Liza. Aku yang berlagak bijak memberikan petuah-petuah kehidupan kepada Liza seputar perkawinan, keturunan, kebersyukuran, dan lain-lain. Setelah Liza mabuk akan kepiawaian kata-kata tokoh Aku, akhirnya Liza datang ke alamat rumah si Aku. Di sanalah permasalahan timbul. Tokoh Aku menceracau semaunya hingga merendakan Liza. Ia bertindak seolah-olah seorang despot. Hingga akhirnya Liza pergi meninggalkannya.
