Friday, May 22, 2026
Home > Literasi > Cerita > Bertinju di Dalam Karung

Bertinju di Dalam Karung

Bertinju di Dalam Karung

“Tidak perlu. Cukup tangan kosong saja,” kata Tolet.

“Saya juga,” lanjut Andi.

“Baiklah! Kami persilakan kalian berkelahi namun dilaksanakan di dalam karung besar ini. Siapa yang bisa bertahan berarti dialah yang benar,” kata Pak RT.

Andi dan Tolet lalu masuk ke dalam satu karung. Karung itu lalu ditutup dan diikat dengan tali. Pak RT lalu memberi aba-aba: “Mulai!”

Pertarungan berjalan seru. Karung lalu bergejolak hebat menandakan bahwa penghuni di dalamnya sedang bertengkar sangat hebat. Karung lalu mulai menggelinding ke kiri lalu berputar ke kanan. Tiba-tiba terdengar suara teriakan kesakitan dari dalam karung.

“Saya menyerah!” teriak Tolet.

Pak RT lalu membuka karung dan menemukan Tolet dalam keadaan setengah sadar. Andi lalu keluar dari karung dengan begitu gagah sambil berujar, “Makanya jadi lelaki itu harus bisa membahagiakan wanita!”

Sementara Tolet dengan tergopoh-gopoh dibawa ke rumah sakit setempat.

***

 

TOLET tak bisa melupakan kejadian itu. Dirinya masih tidak terima lantaran Tri, istrinya yang begitu cantik, resmi menjadi milik Andi. Dia tentu masih ingin mendengar rayuan manja di setiap malam ketika ingin menuntaskan nafsunya. Demi menuntaskan hasrat birahinya itu ditemuinya Pak RT untuk menggugat keputusan bertinju dalam karung kemarin itu.

“Tidak bisa. Sekali tidak bisa tetap tidak bisa!” tegas Pak RT.

“Tapi, Pak. Saya masih cinta dengan mantan istri saya,” pinta Tolet.

“Kau tentu tahu hasil bertinju dalam karung itu bersifat mengikat. Dia tidak bisa diganggu gugat karena itu adalah cara di desa kita ini dalam menyelesaikan setiap persoalan,” jelas Pak RT.

“Tapi, Pak…,”

“Cukup! Sekarang kamu pergi dari sini!” Pak RT lalu mengusir Tolet dari rumahnya.

Tolet sangat kesal dengan keputusan Pak RT. Seharian dia hanya melamun. Namun, tiba-tiba dia dibangunkan oleh gosip-gosip tetangganya tentang pencalonan Pak RT sebagai Kepala Desa. Tampaknya dirinya baru saja mendapatkan ide.

Ketika masa kampanye pemilihan dimulai, Tolet mengetahui bahwa Pak RT dan Pak Kades melakukan kecurangan agar mendapatkan banyak suara. Dimulai dari tuduhan bahwa Pak RT memiliki latar belakang keluarga komunis, lantaran ayah Pak RT menghilang tanpa sebab di masa penumpasan tahun 1965. Di sisi lainnya, Pak Kades diduga mengorupsikan berbagai dana dari pemerintah untuk kepentingan balik modal pada pemilihan sebelumnya.

Tolet mulai menjalankan siasatnya. Bermodalkan kemampuan edit foto yang baik, Tolet mengedit foto Pak RT. Dia buat foto Pak RT seperti sedang menerima uang suapan dari salah satu perusahaan besar. Tentu saja tim sukses Pak Kades menjadi berang. Disebarkannya informasi itu kepada orang-orang di desa tersebut. Pelan-pelan penduduk menjadi percaya bahwa Pak RT sedang bekerja sama dengan salah satu perusahaan besar di Jakarta untuk mengambil tanah penduduk di desa itu.

Translate »