Halaman: 1 2
Pagi itu, saya ingin mengunjungi Monumen Nasional atau Monas setelah bertahun-tahun hanya memandanginya dari kejauhan. Terlintas dalam pikiran ingin reuni sehari dengan tempat-tempat yang sembilan tahun lalu menjadi tempat bercengkerama dalam keseharian. Meski sejenak di kota terpadat di Indonesia ini, namun ada kesan mendalam di dalam hati.

Dari kawasan Cikini, saya menggunakan transportasi online Grab Car dan berhenti di Stasiun Gambir. Saya sarapan sekaligus makan siang di Bakmi GM. Ngobrol ngalor-ngidul dengan kekasih saya, kemudian mengunjungi gerai Hoka-Hoka Bento di lantai dua tempat awal mula kisah kasih kami terjalin.
Saya memaksanya menyusuri jalan menuju Veteran 1 untuk bisa masuk komplek Monas dan ternyata, pintu gerbangnya ditutup. Ah, saya ini masih berpikir pada situasi komplek Monas sembilan tahun lalu. Akhirnya, kami menyusuri trotoar hingga melewati depan istana kepresidenan. Saya berhenti sejenak di depan istana dan memandangi simbol kekuasaan itu dengan lekat. Kapan saya bisa diundang ke sana?
Ternyata lumayan jauh juga kaki kami melangkah sehingga sesampainya di gerbang yang terbuka, saya tak sanggup dan tiba-tiba tak berminat mengunjungi Monas. Barangkali karena teriknya matahari yang membuat keringat makin bercucuran sehingga mengubah niat saya.
Kami pun berjalan menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI). Oh ya, sebelum menuju ke sana, tepatnya di depan istana kepresidenan, saya melihat bus bertingkat. Sejenak, saya teringat popularitas bus bertingkat di tahun 1990-an dan kala itu saya belum bisa mencobanya. Kali ini, saya harus mencobanya. Wajar saja, saya berubah pikiran dalam sejenak, bukan sekedar terik matahari, tetapi karena hasrat untuk menaiki bus Transjakarta itu.
Sepanjang perjalanan mencari bus itu, saya browsing dan menemukan beberapa artikel tentang bus yang ternyata tak dipungut biaya alias gratis. Saya pun semakin bersemangat. Sayang, halte terdekat tutup sehingga saya harus menyeberang ke halte dekat Mahkamah Konstitusi.
Dari kejauhan, sudah terlihat deretan antrean bus itu. Saya agak kecut melihatnya. Apakah bisa cepat naik?
Rupanya, beberapa orang tak suka duduk di bus bagian bawah karena ingin naik ke bagian atas. Saya pun sebenarnya sangat menginginkan melihat kota Jakarta dari atas bus. Apalah lacur, badan sudah tak sanggup diajak antre, maka di bawah pun tak apa.
Setiap penumpang memperoleh tiket bus dan tiket tersebut berlaku untuk satu kali perjalanan. Tangan saya pun dengan cekatan memotret tiket tersebut sebagai kenangan bahwa pernah mencicipi perjalanan gratis yang disediakan oleh pemerintah kota Jakarta pada masa Basuki Cahaya Purnama atau biasa disebut Ahok.
