Thursday, April 16, 2026
Home > Dapur Puan > Kuliner > Pertempuran Rasa di Dapur Tempur Jambi

Pertempuran Rasa di Dapur Tempur Jambi

Dapur Tempur

Ada cendol, santan dan gula. Saya menginginkan nangka, tetapi tidak saya temui. Hanya aromanya saja yang saya temui. Saya cecap airnya dan kesegaran terasa di kerongkongan dan manisnya sangat pas. Saya tak suka minuman ataupun makanan yang terlalu manis. Ternyata ada cincau berbentuk dadu di dalam es cendol ini, perpaduan yang kurang pas menurut saya, namun ternyata setelah saya rasakan cukup lumayan. Maklum, saya bukan penggemar cincau.

Datanglah menu utama makan siang saya, sapo tahu dan nasi. Semangkok sapo tahu yang membuat cacing di perut saya menari-nari. Saya cicip kuahnya. Segar sekali dan gurih seperti rasa sapo tahu yang pernah saya buat dan makan di resto lainnya. Hanya saja, sapo tahu di Dapur Tempur ini tak menggunakan tepung tapioka yang membuat kuahnya agak kental. Saya tak mempermasalahkan ketiadaan tambahan tepung tapioka tersebut.

Saya memesan sapo tahu ayam karena saya alergi seafood. Sangat disayangkan bagi seorang pecinta kuliner yang memiliki makanan pantangan sehingga tidak bisa menikmati semua masakan. Meski begitu, saya tak pernah berhenti untuk mencoba masakan di resto dan cafe yang  saya inginkan. Seperti sapo tahu di Dapur Tempur ini yang di dalamnya terdapat tahu sutra berbentuk lingkaran pipih, potongan ayam, wortel dengan irisan bawang bombai, daun bawang dan cabai merah keriting.

Baca juga: Merasai Pelbagai Menu Enak di Solaria

Perut saya yang memiliki porsi kecil untuk makanan, membuat saya harus berhenti sejenak untuk menurunkan suapan demi suapan sapo tahu dan nasi yang telah masuk ke lambung. Sapo tahu ini enak dan saya ingin cepat menghabiskannya tetapi perut saya tak sanggup, terlebih saya selingi dengan meminum es cendol, otomatis lambung menjadi penuh.

Sejenak, saya membuka buku Selamat Menunaikan Ibadah Puisi karya Joko Pinurbo untuk menanti proses lambung meremas makanan dan melimpahkan ke usus halus. Setelah rasa lega terasa, saya melanjutkan kembali makan. Ini bukan karena masakan tak enak, memang karena saya tak seharusnya memesan nasi sehingga porsi pas untuk perut mungil saya. Akhirnya saya menghabiskan sapo tahu dan es cendol meskipun menyisakan sepertiga nasi. Sungguh, saya amat kenyang dibuatnya, seolah selesai melakukan pertempuran, tak berdaya karena kenikmatan rasa dua menu yang saya pilih, sapo tahun dan es cendol.

Translate »