Bagaimana suka duka KJM?
Untuk sukanya, di KJM ini kami bisa saling belajar dan mengajar tentang arti berbagi kesenangan di dalam ruang lingkup yang sama, yaitu literasi. Kami bisa saling mengerti bagaimana membangun kebersamaan di dalam kesulitan, dan kami bisa merasakan arti dari perjuangan itu sendiri. Sedangkan dukanya, mungkin ini bukan sebuah duka, tetapi sebuah pengalaman hidup yang akan menjadi cerita suatu hari nanti, kami pernah harus merasakan rasa pahitnya terusir dari tempat biasa kami buka lapak baca, dan kami juga pernah buka lapak baca tetapi tidak ada sama sekali yang baca buku. Sejauh ini, itu sih yang buat sedih.
Bagaimana respons masyarakat dengan adanya KJM?
Tentunya mendapat respons yang positif dari masyarakat. Tidak jarang kami mendapat ucapan terima kasih dan pujian dari masyarakat. Pujiannya seperti ini, “Wah luar biasa dan kreatif untuk jari menari,” dan masih banyak lagi lainnya.

Apakah pihak masyarakat yang menyumbang buku juga banyak?
Dari masyarakat juga ada. Belum bisa kami katakan banyak, tapi ada kemarin kami mendapatkan sumbangan buku dua kardus dari masyarakat.
Apakah selama ini ada bantuan dari pemerintah?
Belum ada.
Melihat geliat lapak baca, sepertinya kan masih sedikit di Jambi, bagaimana upaya KJM agar di kabupaten-kabupaten lain ikut bergerak?
Upaya kami saat ini ingin mengumpulkan sebanyak-banyaknya buku, lalu menyumbangkan kepada teman-teman mahasiswa di kabupaten yang berkeinginan untuk buka lapak baca. Saat ini di beberapa kabupaten juga sudah ada lapak baca, seperti Kabupaten Merangin dan Sarolangun. Tentunya kami akan terus mengampanyekan ayo membaca.
