Lebih tepatnya, perlombaan ini dianggap sebagai hiburan orang-orang Belanda di masa lalu. Uniknya, peserta perlombaan adalah orang-orang pribumi. Sebab pada zaman dahulu mendapatkan makanan dan keperluan rumah tangga yang digantung pada perlombaan ini merupakan hal yang mewah. Juga perjuangan untuk mendapatkannya merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri.
Sementara masyarakat Indonesia berjuang memanjat batang pohon pinang, orang-orang Belanda menonton sambil terbahak-bahak. Bila kita membayangkan ke masa lalu, apa yang akan kita rasakan ketika melihat saudara kita bersusah payah berjuang malah ditertawakan oleh orang Belanda? Bukankah ini sebuah pelecehan terhadap nilai-nilai kemanusiaan? Atau sebuah simbol kolonial yang hingga kini masih menimbulkan kesakitan bagi masyarakat yang memahami sejarah? Bukankah ini sisi kelam dari sejarah yang tak seharusnya dirayakan? Bagi masyarakat yang kontra akan perlombaan ini, tentu saja hal tersebut sangat tidak diinginkan ada. Namun, benarkah kebanyakan masyarakat Indonesia merasakan demikian?
Bila Sahabat Puan pernah menonton sinetron karya Deddy Mizwar berjudul Para Pencari Tuhan, ada sebuah adegan ketika ada tokoh yang menolak mentah-mentah diadakan perlombaan panjat pinang di acara 17-an dengan alasan sejarah kelam tersebut. Pro kontra semacam ini sebenarnya masih terus bergulir hingga kini. Namun, tokoh tersebut jelas menggambarkan sisi lain masyarakat yang menolak panjat pinang – yang barangkali ia menganggap bahwa kebanyakan masyarat awam tidak memahami sejarah. Lantas, bila masyarakat Indonesia kemudian memahami sejarah yang dianggap kelam tersebut, apakah tradisi panjat pinang akan serta-merta hilang atau dihilangkan?
Meski ada golongan yang kontra, tentu juga ada banyak masyarakat yang mendukung tradisi panjat pinang ini. Mereka yang setuju berdalih perlombaan panjat pinang sebagai usaha menghormati dan menghargai perjuangan para pahlawan yang telah gugur di medan perang? Selain itu sebagai usaha memupuk solidaritas, saling tenggang rasa, meningkatkan kepercayaan diri dalam kerja sama tim, gotong-royong, dan lain sebagainya.
Barangkali tepatnya begini. Masyarakat Indonesia masa lalu – pribumi – yang melakukan panjat pinang, meski ia menjadi tontonan dan lawakan bagi orang Belanda, namun ada hasrat lain dalam memperjuangkan hadiah – yang pada masa itu bila masyarakat pribumi mendapatkannya, ia akan merasa gembira dan sukacita sebab hadiah-hadiah tersebut merupakan hal yang tidak muda mereka dapatkan. Kepuasan dalam berjuang mendapatkan hadiah tersebut barangkali dituturkan dari mulut ke mulut sehingga memunculkan tradisi yang hingga masa kini diyakini bahwa panjat pinang memberikan hiburan sekaligus menonjolkan sisi perjuangan.
