Tema-tema novel yang diangkat ke dalam novel Meiliana pun beragam. Namun, kebanyakan novelnya membahas Human interest (aspek kehidupan manusia dan keragaman sosial). Usut punya usut, ternyata saat ini Meiliana K. Tansri sedang menyiapkan novel kedelapannya yang judulnya masih dirahasiakan. Novel ini telah 80% beliau kerjakan dengan mengekspos sejarah lokal. Lokalitas adalah identitas.
Dengan merekam kehidupan sosial masyarakat Jambi, artinya ini merupakan tanggung jawab sastrawan yang memang memiliki perhatian tentang sosial kultural di masyarakat, melibatkan kebudayaan kepada masyarakat luas, juga sebagai pelestarian budaya Jambi, misalnya dengan menceritakan sejarah kampung, status perempuan di masyarakat, dan lain-lain.
Saat tim redaksi puan.co menanyakan apakah penulis harus rajin membaca buku? Menurut Meiliana K. Tansri, sebagai penulis kita harus membaca karena dengan membaca, kita akan mudah menuangkan gagasan dalam menulis, menambah kosakata, menambah wawasan dalam mengembangkan ide cerita, memberi dukungan data saat riset, dan menstimulasi imajinasi.
Dalam menulis, seringkali kita kehabisan ide. Kalau Meiliana K. Tansri berada dalam kondisi yang demikian, menurutnya ini hal yang wajar sebab hal ini merupakan kendala penulis pada umumnya. Biasanya beliau akan berhenti sejenak, kemudian melanjutkan lagi saat ide-ide bermunculan dalam kepalanya. Waktu yang sering beliau gunakan dalam menulis adalah rentang waktu antara pagi hingga siang hari sebab kalau malam sudah kelelahan dan harus meninabobokkan anak.
Untuk memudahkannya dalam menulis, beliau selalu membuat kerangka karangan. Artinya, ketika nanti terjadi perubahan alur, tetap tidak keluar dari konsep awal yang telah disusun secara matang. Di sela-sela aktivitasnya sebagai penulis, Meiliana K. Tansri adalah ibu empat anak sekaligus seorang istri yang mencintai keluarganya. Baginya, keluarga masih nomor satu sehingga aktivitas menulisnya tidak bisa dijadwal. “Sesempatnya saja, tidak perlu cengeng meskipun keluarga menjadi hambatan produktif dalam menulis,” imbuhnya.
Selama menjadi penulis, Meiliana merasa lebih banyak sukanya dibanding dukanya. Sebab bila dilihat dari segi finansial, hasil tulisannya bisa membantu perekonomian keluarga, apalagi kalau menulisnya produktif, tentu saja bisa menjadi sumber nafkah.
Baca juga: Penerbit Indie dalam Genggaman Perempuan Muda
Jika melihat perkembangan literasi di Jambi, sangat sedikit penulis perempuan Jambi yang bisa muncul ke permukaan, terutama tingkat nasional. Menurut Meiliana K. Tansri, salah satu penyebabnya adalah konsistensi. Harus berkomitmen menulis meskipun banyak hambatan. Di lain hal, budaya literasi di Jambi masih belum maju karena minat bacanya masih rendah.
