Yang menjadi keunikan lain dalam buku ini, yakni terdapat beberapa halaman yang paragrafnya bernapas panjang. Lebih dari sepuluh halaman yang tiap halamannya hanya terdiri satu paragraf saja. tentu saja ini menjadi kenikmatan tersendiri bagi pembaca untuk berkonsentrasi menyelami dunia Henry James.
Winterbourne yang sangat tertarik kepada Daisy yang ramah, ketika itu mengunjungi Daisy sekeluarga yang pindah ke sebuah hotel di Roma, Italy. Bukan hanya di Vevey Swiss, di kota ini ternyata Daisy juga menjadi pergunjingan di tengah-tengah masyarakat. Ia memiliki teman karib lelaki tampan asli Italy bertubuh kecil – Giovanelli. Giovanelli bukanlah seorang yang kaya, tetapi Daisy mau bersahabat karib dengannya. Sebenarnya, Ny. Miller – Ibu Daisy – tak pernah menyetujui Daisy bepergian dengan lelaki mana pun. Namun, Daisy yang ramah, menawan, dan terbuka terhadap siapa pun merasa membutuhkan seorang teman. Saat Winterbourne mengetahui Daisy dekat dengan Giovanelli, ia terbakar cemburu. Apalagi menurutnya, lelaki rendahan yang dalam tatanan sosial tidaklah setara dengannya yang merupakan lelaki terhormat. Inilah krtitik sosial yang sebenarnya ingin diutarakan oleh James.
Baca juga: Kisah-kisah Persahabatan dan Perempuan di Dataran Tortilla
Selain pergolakan antara adat dan keterbukaan keluarga Daisy, pembaca juga akan diajak berwisata sejarah. Sebut saja Puri Chillon di Swiss – yang kaya akan peninggalan feodal, juga Colosseum di Roma, Italy. Sayang, kemegahan dan keindahannya tidak dijelaskan secara detail oleh pengarang. Selain itu, terjemahan bahasanya terlalu formal dan kaku. Kata You yang diterjemahkan menjadi Anda terkesan memberi jarak. Padahal obrolan berlangsung antara laki-laki dan perempuan dalam suasana santai – bukan formal. Semestinya penerjemah barangkali bisa menggunakan diksi kamu/kau supaya suasana akrab antarmereka lebih hidup. Bila saja pembaca sudah membaca novel Daisy Miller dalam edisi asli bahasa Inggris, pembaca akan merasakan sendiri perbedaannya.
Bila berbicara masalah pergolakan adat, saya jadi teringat novel-novel Indonesia angkatan Balai Pustaka (1920-an) yang sangat banyak membicarakan adat dalam banyak kisah. Sebut saja kisah Siti Nurbaya (Marah Rusli, 1922), Darah Muda (Adi Negoro, 1927), Rusmala Dewi (S. Hardjo Soemarto, 1934) yang mengkritik pola pikir masyarakat kala itu yang sangat konservatif, yakni masalah perjodohan. Secara tematik yang diangkat dalam novel-novel Amerika dan Indonesia relatif sama. Bisa disimpulkan, permasalahan adat dan tradisi adalah isu dominan yang melanda kebudayaan global saat itu.
