Keempat, ia berani mendobrak adat dengan memberikan persyaratan sebelum menikah atau saat ini disebut perjanjian pra-nikah. Perbuatan yang tidak umum kala itu, namun calon suaminya, Djojohadiningrat yang diperankan oleh Dwi Sasono, memiliki pemikiran terbuka dan mau menerima persyaratan itu. Bahkan setelah menjadi suaminya, Kartini bisa mewujudkan cita-cita membuat sekolah perempuan.
Pelajaran dari hidup Kartini itu bisa diterapkan masa kini dengan tidak hanya sekedar menjadikan peringatan hari kelahirannya secara seremonial, tetapi melanjutkan perjuangannya di bidang masing-masing secara maksimal. Meski Kartini merupakan produk pendidikan kolonial Belanda, namun jasanya dengan istilah “emansipasi” yang ditulis dalam salah satu suratnya, membuka tabir gelap menjadi terang bagi perempuan Indonesia. Inspirasi yang luar biasa untuk kaum perempuan Indonesia.
Film ini berhenti pada pernikahan Kartini, tidak sampai pada proses perjuangan Kartini selanjutnya hingga kematiannya. Selain durasi, kemungkinan memilih awal perjuangan merupakan bagian pentingnya. Pokok perjuangan Kartini dari masa pingitan hingga menikah memang perlu diketahui masyarakat sehingga bisa mengetahui keistimewaan Kartini sehingga dijadikan pahlawan dan hari lahirnya diperingati setiap tahun.
