Monday, May 25, 2026
Home > Literasi > Resensi > Sang Pendobrak Zaman: Ulasan tentang Film Kartini Karya Hanung Bramantyo

Sang Pendobrak Zaman: Ulasan tentang Film Kartini Karya Hanung Bramantyo

Sang Pendobrak Zaman: Ulasan tentang Film Kartini Karya Hanung Bramantyo

Sebelum kakaknya pergi ke Belanda guna menuntut ilmu, ia memberi petunjuk mengenai kunci itu untuk membuka sebuah lemari di kamarnya. Tentu saja, Kartini penasaran dengan petunjuk dari kakaknya itu. Rupanya ada deretan buku-buku karangan penulis Belanda yang membuat hati Kartini berbinar dan langsung membacanya.

Kekurangan di adegan ini, tidak ada diperlihatkan proses belajar di sekolah Belanda sehingga Kartini mampu membaca dan menulis bahasa Belanda dengan baik. Tentu itu akan sedikit membingungkan bagi penonton yang belum mengenal benar sosok Kartini.

Selanjutnya, Kartini merasa tercerahkan lagi dari korespondensi dengan kakaknya. Adegan diperlihatkan seolah-olah Sosrokartono berada di dekat Kartini dan bercakap seperti dalam surat yang digenggamnya. Di adegan ini, saya terganggu dengan surat Sosrokartono yang menggunakan huruf Jawa. Menurut saya, Hanung kecolongan karena tulisan Jawa-nya di surat itu terlalu jelek, seperti tulisan Jawa orang masa kini. Saya yang mengetahui karakter tulisan Jawa zaman itu tentu agak kecewa.

Adegan-adegan selanjutnya adalah masa-masa kebebasan Kartini dengan adik-adiknya, Kardinah dan Rukmini. Penulis skenario menyelipkan kata-kata yang dikutip dari biografi Kartini yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer yakni: Panggil Aku Kartini Saja. Di sela-sela adegan itu, ada sesi foto menggunakan kimono. Saya membandingkan dengan foto aslinya, ada kemiripan gaya Dian Sastrowardoyo dengan Kartini, namun ada satu orang yang hilang dari gambar aslinya yang tak ada di film itu. Siapakah dia?

Adegan yang paling menguras emosi dan air mata ialah saat Kardinah dan Kartini menikah. Saya nyaris menitikkan air mata. Betapa menikah dengan paksaan bukanlah hal yang menyenangkan. Kartini pada akhirnya menyerah dengan takdir yang sulit dihindarinya: menikah. Ia menikah di saat beasiswanya dikabulkan oleh pemerintah Belanda dan akhirnya beasiswa itu diserahkan kepada Haji Agus Salim.

Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari menonton film ini, yaitu: pertama, Kartini adalah sosok yang melampaui zamannya. Ia berhasil membuat ukiran Jepara hingga terkenal di negeri Belanda sana dan hingga saat ini kota kelahirannya, Jepara, masih dikenal dengan ukiran kayunya.

Kedua, ia memiliki tujuan mulia dengan mengajak kaum perempuan membaca dan menulis. Sesuatu yang sangat langka dilakukan oleh perempuan bangsawan kala itu. Ketiga, ia seorang penulis handal, terlihat dari karya-karyanya yang diterbitkan di jurnal meski atas nama ayahnya. Karya-karya lainnya dan surat-surat dengan teman-temannya di Belanda merupakan bukti kehandalannya.

Translate »