Halaman: 1 2
Prosa-prosa pendek seperti dalam judul, Salju Gurun, Kunci Hati, Selagi Kau Lelap, Jembatan Zaman, Kuda Liar, Cuaca, Lilin Merah, Spasi dan Cetak Biru, semacam petuah bagi penulis dan pembaca. Kata-katanya yang lugas dan bermakna seperti memberi nasihat tentang pertanyaan-pertanyaan tentang hidup yang perlu dikaji ulang untuk dapat dimengerti bahwa hidup itu memiliki arti tersendiri.
Misalnya pada prosa Spasi, Dee menuliskan: “Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada gerak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu”, (hlm. 97).
Dalam Buddha Bar, Dee juga mengungkapkan realitas kehidupan sekelompok orang yang terdiri dari 5 orang. Realitas kota yang sibuk dan sesekali perlu rehat dengan manusia-manusia yang dianggap cocok dengan mereka. Tak seperti realitas desa yang cenderung homogen.
Keunikan pada kumpulan cerita dan prosa satu dekade ini ada pada kisah terakhir yang menceritakan tentang kehidupan kecoak dapur. Kecoak adalah musuh perempuan di dapur. Mungkin Dee terinspirasi dengan kecoak yang muncul di dapurnya sehingga ia menuangkannya dalam sebuah karya. Lagi-lagi ia menuliskan cinta yang absurd, cinta antara Rico kepada Sarah. Rico yang seekor kecoak dan Sarah yang seorang anak manusia. Pada akhirnya cinta itu menghilang bersama kematian Rico yang digambarkan sebagai pejuang cinta yang rela menghisap racun dari Tuan Absurdo demi melindungi Sarah. Kisah ini dituliskan dengan judul Rico de Coro.
Dari ke-18 kumpulan cerita dan prosa itu, hanya Filosofi Kopi yang kemudian menarik hati para sineas untuk membuatnya menjadi sebuah film yang dibintangi oleh Chiko Jerico. Filosofi Kopi memang pilihan yang tepat untuk buku yang bisa menemani pembaca saat menyeruput secangkir kopi di pagi atau malam hari yang senggang.

Comments are closed.