Halaman: 1 2
Setelah anaknya beranjak besar, mulai lagi pasukan nyinyir mengomentari apa saja yang dilakukan orang tua tersebut. Mulai dari pola pengasuhan anaknya, barang-barang yang digunakan untuk anaknya hingga rumah yang selalu berantakan karena disebut tidak telatenlah, malas lah. Belum lagi kalau nanti anaknya diasuh dengan pengasuh atau dititipkan di Tempat Penitipan Anak. Bersyukur untuk sahabat puan yang bisa dengan sendiri mengasuh anak tanpa bantuan siapapun. Bersyukur juga bisa memberikan makanan-makanan sehat hasil dapur sendiri untuk anak-anak tumbuh, dan telaten dengan kebersihan rumah. Bersyukur juga tidak bekerja dan hanya memberikan seluruh perhatian untuk anak-anak. Tapi lantas apakah kita berhak menghakimi perempuan-perempuan lain yang menjalani hidupnya tidak sama dengan kita? Apakah kita berhak merasa paling benar dan paling baik dalam mengasuh anak? Sementara sahabat puan tidak mengetahui bagaimana kehidupan yang dijalaninya, karena anaknya bukan anakmu yang memiliki karakter yang sama. Karena kebutuhannya bukan kebutuhanmu yang memiliki nominal yang sama. Karena tanggung jawabnya bukan tanggung jawabmu yang memiliki beban yang sama. Dan yang pasti kehidupannya, bukan kehidupanmu. Jadi jangan pernah menghakimi apapun tindakan yang dia lakukan sahabat puan. Karena tanpa engkau nyinyir pun, mungkin dia sering merasa lelah dengan rutinitas yang dilakukannya tiap hari. Tanpa engkau hakimi, bisa jadi dia menahan air mata yang akan tumpah karena semua persoalan hidupnya dan perasaan bersalah tidak menjadi ibu yang baik versi kaum-kaum nyinyir.
Jaga lidahmu, karena sahabat puan tidak pernah tahu dengan lidah ini bisa jadi banyak hati yang terluka. Jangan nyinyir kalau temanmu belum menemukan jodohnya, karena tanpa nyinyirpun dia sudah tahu apa yang diinginkannya. Jangan nyinyir, kalau teman belum memiliki momongan, karena kamu tidak tahu berapa banyak doa yang sudah dia panjatkan untuk itu. Jangan nyinyir kalau ada teman yang melahirkan sesar, apalagi bilang tidak menjadi ibu seutuhnya. Aduh…, padahal disesar itu sakitnya luar biasa. Jangan nyinyir kalau ada temanmu yang sedang berjuang memberikan ASI untuk anaknya tapi tak kunjung-kunjung keluar, karena tanpa nyinyir pun dia sudah berjuang sangat keras. Sebaiknya bantu dia, dan kalau bisa sarankan dia ke konsultan ASI, dan baiknya lagi sahabat puan menjadi bagian dari itu. Jangan nyinyir lagi ya, antara ibu pekerja atau ibu rumah tangga. Repot lagi ngurusin anak pembantu dengan anak emak. Karena hidup yang dijalaninya, tidak sama dengan yang sahabat puan jalani. Jadi jalani saja hidup sahabat puan dengan bersyukur dan bahagia, berhentilah nyinyir dan teruslah berbuat baik.
