Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Opini/esai > Budaya Malu Jaman Now

Budaya Malu Jaman Now

Sulit dibantah jika ada sebagian pendapat yang menyatakan bahwa masyarakat kita kini telah dihinggapi pola sikap permisif, yakni suatu sikap yang mengiyakan dan menganggap semua hal serba boleh dilakukan atau suatu sikap yang barangkali kelihatan menjunjung kebebasan sejati. Namun jika ditilik lebih jauh, malah menjadi penyubur kerusakan moral masyarakat dan bangsa. Misalnya saja, perilaku masyarakat yang suka mengumbar hidupnya di media sosial, seperti yang sedang tren saat ini. Banyak ditemukan upload-an foto diri ataupun curhatan yang berseliweran di media sosial, baik hal positif maupun negatif. Eksistensi diri pun menjadi alasan kecuekan. Stigma “semakin cuek / semakin terbuka akan kehidupan, maka akan semakin eksis” mulai merajai sanubari.

Sahabat Puan, budaya cuek ini berjalan seiring dengan menipisnya rasa malu dalam kehidupan masyarakat kita. Seharusnya malu adalah suatu perasaan yang timbul bilamana telah melakukan sesuatu yang hina, tidak baik, cacat, dan rendah dipandang masyarakat, kebiasaan, adat, dan agama. Perasaan seperti inilah yang kelihatan semakin hari semakin langka di kehidupan kita saat ini.

Kita merasa aman-aman saja ketika melakukan kemaksiatan dan dosa. Kebohongan, penipuan, penganiayaan, dan kemesuman merupakan menu yang hampir selalu tersaji di hadapan kita. Semua perbuatan “yang tak tahu malu” ini pun telah dilakukan secara kasat mata menembus segala penjuru dan lapisan di masyarakat kini. Hal baik atau positif menjadi semakin tenggelam dan digantikan oleh gambaran akan keburukan yang terlihat makin biasa saja.

Manakala rasa malu telah hilang, semua perbuatan buruk akan semakin merajalela tak terkendalikan. Perilaku “semau gue” atau “urat malu sudah putus” pada akhirnya membuat kita takpeduli walaupun telah melanggar semua aturan. Atas situasi kebablasan seperti ini Alquran memperingatkan, yakni

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Fussilat, 41: 40)

Hal senada juga pernah disabdakan oleh Rasulullah Saw

Abu Mas’ud, Uqbah ibn Amr Anshari al-Badri ra mengatakan bahwa Rasulullah Saw berkata, “Ucapan kenabian yang paling awal diketahui manusia adalah jika kamu tidak malu, maka lakukanlah apapun yang kamu mau,” (H.R. Bukhari, Abu Dawud, dan Ahmad).

Sahabat Puan, jangan keliru memahami pernyataan hadis di atas! Hadis tersebut bukan berarti Rasulullah mengizinkan kita untuk berbuat semaunya, namun merupakan sindiran bagi mereka yang dengan rasa bangga melakukan kemaksiatan, kejahatan, dan dosa. Hadis tersebut juga sekaligus merupakan ancaman bagi mereka yang tidak mempunyai rasa malu dengan melakukan apa saja yang dikehendakinya, dengan tidak menghiraukan batasan dan larangan agama.

Translate »