Halaman: 1 2
Perempuan berkerudung itu terlihat sibuk menyusun kembali tumpukan buku yang berserakan di lantai. Jemarinya sibuk memilah-milah buku sesuai dengan kategorinya. Dua anak perempuan setia menemaninya. Sementara di sudut ruangan terdapat sebuah ayunan besi. Seorang bayi laki-laki baru saja terlelap di ayunan besi itu. Wajah bayi laki-laki itu terlihat damai mengukir berbagai mimpi, seperti buku-buku cerita yang dibacakan ibunya sebagai dongeng pengantar tidur.
Nursanti, nama perempuan berkerudung tersebut. Sebagaimana arti namanya cahaya, Santi demikian panggilannya sehari-hari, mengabdikan dirinya untuk sebuah rumah baca di desanya., yaitu Rumah Baca Masyarakat Jangkat. Rumah baca ini melingkupi delapan dusun diantaranya, Dusun Kampung Sawah, Dusun Koto Tinggi, Dusun Koto Jayo, Dusun Tanjung Jati, Dusun Renah Mentelun, Dusun Simpang Danau Pauh Barat Dusun Danau Pauh Simpang, dan Dusun Danau Pauh.
Rumah baca ini didirikan sejak 2013, Nursanti bercerita jika awalnya masyarakat di sekitar mengganggap dia membuka toko buku. “Awalnya saya dianggap menjual buku, mereka belum dekat dengan pustaka. Dan memang, sebelumnya belum ada rumah baca di sini. Beberapa kali banyak orang tua yang malah mau beli buku sekolah, beli iqro, “ kenangnya.
Selepas menamatkan kuliah keguruan di Universitas Jambi, Santi melihat banyaknya anak-anak yang putus sekolah dan fenomena menikah dini di kampung halamannya. Santi berpikir, bahwa yang mesti dilakukan untuk menghadapi hal tersebut melalui mengubah kebiasaan anak-anak. Rumah baca, menurutnya adalah salah satu solusi yang tepat agar waktu luang anak-anak dihabiskan dengan membaca.
“ Saya pikir, yang harus dilakukan untuk meminimalisir angka putus sekolah maupun pernikahan dini pada anak, adalah mengambi waktu luang mereka untuk hal-hal yang bermanfaat,” terangnya.
Rumah baca Masyarakat Jangkat dibuka setiap harinya pada pukul 13.00 WIB sampai dengan 17.00 WIB, kecuali hari minggu dan hari libur, biasanya buka dari pagi. Santi juga mengajarkan berbagai pola hidup sehat bagi anak-anak. Kegiatan gerakan sikat gigi dan minum susu merupakan kegiatan rutin yang hampir setiap bulan dilakukan. Santi bercerita, dia melakukan kegiatan tersebut dengan menggalang dukungan melalui media sosial.
Dia mengajak teman-temannya untuk memberikan donasi , baik berbentuk barang dan uang, agar kegiatan tersebut dapat berlangsung. “Tidak semua anak di sini terbiasa sikat gigi, karena mereka tidak memiliki sikatnya. Dan juga gerakan minum susu, saya merasa senang sekali hal-hal kecil ini bermanfaat bagi anak-anak,” sebutnya.
