Monday, May 25, 2026
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Kem Nipah Panjang: Tradisi dan Kepercayaan

Kem Nipah Panjang: Tradisi dan Kepercayaan

mandisafarkem

Lepat dan ketupat yang selesai ditanak disajikan bersama lauk di atas talam. Tiba-tiba datang seorang pemuka agama dan keluarga Masyitah lainnya. Makanan itu digunakan sebagai perjamuan. Pemuka agama membacakan doa dan menuliskan huruf arab pada selembar daun. Kemudian daun itu dimasukkan ke dalam bak mandi. Dipercaya mampu memberikan keselamatan bagi siapa saja yang mandi dengan air yang telah dicelupkan daun itu.

lepatketupatnipahpanjang
Lepat ketupat nipah panjang

Ketika waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, saya dan Masyitah pergi ke Kem, sebuah dermaga berbentuk huruf T yang lama tak digunakan. Di dekat sana ada rumah-rumah batu yang sebagiannya belum selesai. Masyitah mengatakan bahwa Kem ini selesai dibangun pada tahun 2007. Awalnya, pemerintah berharap agar dermaga berbentuk huruf T ini digunakan para nelayan. Namun hingga saat ini, para nelayan sangat jarang memakainya.

Tiba di sana, orang-orang sudah ramai. Tak ketinggalan para pedagang makanan yang mencari peruntungan. Dari kejauhan, kapal-kapal dan ketek berlayar menuju Kem. Penumpangnya satu-persatu menceburkan dirinya ke dalam Sungai Batanghari. Tak ada ritual khusus, hanya beberapa saja yang mulutnya komat-kamit sebelum menceburkan dirinya ke sungai. Entah membaca mantera atau doa. Jarak antara atas Kem ke  Sungai Batanghari kira-kira hanya 20 m. Beberapa yang berada di atas pun melakukan aksi mandi safar dengan terjun langsung ke sungai. Beberapa lainnya hanya menonton. Ada polisi laut dan juga tentara yang mengawasi dengan kapal khasnya. Yang membuat saya tersenyum, pada sebuah jembatan menuju Kem, ada sebuah spanduk yang bertuliskan “Hati-hati ada buaya. Buaya laut lebih ganas daripada buaya darat”.

Sambil menikmati aksi mandi ini, saya diam-diam mengamati pembicaraan mereka dengan dialek khasnya. Jika di Kota Jambi sebagian kata yang berakhiran huruf “A” berubah menjadi “O”, maka di kampung ini menjadi “E”. Bahasanya tak jauh beda dengan film kartun Upin-Ipin. Dialek melayunya lebih mendayu-dayu. Setelah saya telusuri lebih lanjut, memang pendatang awal Nipah Panjang adalah seorang raja dari Melayu Timur yang dahulunya melarikan diri dari kejaran Belanda. Barngkali sejarah inilah yang memengaruhi bahasanya.

Saya lantas mengarahkan mata menuju bunga-bunga ungu yang daunnya yang membentang hijau. Ia tumbuh di tepian sungai, namun di tengah sungai, serentetan enceng gondok tergenang gelombang mengikuti nasibnya dan semriwing angin menyergap tubuhku tiba-tiba.

Translate »