Bangunan tua lainnya yang terdapat di Desa Senaung adalah Madrasah Diniyah yang dibangun pada tahun 1934 dan siap digunakan tahun 1937. Bangunan madrasah berhubungan dengan bangunan SDN 3 Senaung. Kala itu, warga setempat dan beberapa desa sekitarnya menggunakan madrasah sebagai tempat belajar dan satu-satunya yang ada di desa ini. Pada tahun 1940, oleh pemerintah madrasah ditetapkan fungsinya sebagai SDN 3 Senaung.
“Masih ada foto saat madrasah dibangun dengan kondisi jendela tempo dulu,” ujar Sulaini.
Tidak hanya arsitektur yang ditampilkan dalam tour Kampung Senaung tersebut, berbagai benda antik dan bersejarah berumur ratusan tahun pun ditampilkan. Misalnya, naskah permohonan dalam bahasa belanda tahun 1931 ada pula terompet, seperangkat alat menyirih, vas bunga, kain sarung yang berumur ratusan tahun serta meja pualam yang dibuat di tahun 1940-an.
Pemilik benda bersejarah turun temurun ialah Sidik, warga asli Desa Senaung. Ia menjelaskan bahwa benda peninggalan tersebut merupakan warisan dari kakeknya saat menjabat sebagai kepala desa tahun 1920-an. Benda tersebut sampai saat ini masih dijaga dan dipelihara dengan baik di kediamannya.

Meski festival kampung Senaung yang bertajuk “bergerak membangun desa ini sudah selesai, Sidik tidak keberatan untuk menerima masyarakat yang masih ingin melihat benda-benda bersejarah tersebut dan langsung datang ke rumahnya.
Pada 25 November 2017, acara tradisi Pelarian Umo atau biasa disebut tradisi gotong royong oleh warga setempat yaitu membersihkan sawah digelar. Tradisi turun temurun tersebut telah punah ditelan zaman. Tradisi Pelarian Umo kembali diadakan guna mengingatkan kembali warga Desa Senaung karena mereka sudah banyak yang tidak bekerja sebagai petani padi di sawah.
Beberapa warga Desa Senaung dalam prosesi tersebut membawa perlengkapan seperti parang dan kaitan yang terbuat dari kayu. Warga yang melakukan Pelarian Umo juga menggunakan pakaian khusus untuk turun ke sawah, seperti tengkuluk atau baju panjang, celana panjang, serta bagian kaki mengenakan kaos kaki yang dililit hingga menggapai lutut dengan menggunakan karet ban.
Sesepuh Desa Senaung, M.Rifa’i, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan warisan budaya dari para leluhur yang biasa dilakukan oleh muda mudi desa Senaung secara berpasangan. Mereka membersihkan umo atau rerumputan.
“Untuk menghilangkan rasa capek atau bosan saat prosesi membersihkan umo atau sawah, nantinya mereka akan berpantun dan saling membalas pantun,” ujarnya.
