Kehadiran orang-orang Po-ssu dan Ta-shih di bandar-bandar sepanjang tepian Selat Melaka, pantai barat Sumatera, dan pantai timur Semenanjung Tanah Melayu sampai ke pesisir Laut Tiongkok Selatan diketahui sejak abad ke-7 Masehi atau abad ke-1 Hijriah. Hubungan pelayaran dan perdagangan antara bangsa Arab, Persia, dan Sriwijaya rupanya dibarengi dengan hubungan persahabatan di antara kerajaan-kerajaan di kawasan yang berhubungan dagang. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya beberapa surat dari Maharaja Sriwijaya yang dikirimkan melalui utusan kepada Khalifah Umar ibn ‘Abd. Al –Aziz (717-720 Masehi).
Surat itu berisi pemberian hadiah sebagai tanda persahabatan. Selain itu, Maharaja Siriwijaya juga mohon dikirimkan mubaligh untuk mengajarkan Islam di Sriwijaya. Ini artinya, kehidupan religi di tanah pesako cukup serasi dan toleransi di mana tiap ajaran atau agama mempunyai hak yang sama untuk berkembang.
Masa Lalu di Depan Publik
Kisah keteladanan dari masa lalu perlu diberitakan melalui berbagai cara dan salah satunya lewat tulisan sebagaimana I-tsing contohkan. Agar masyarakat yang hidup sekarang tidak terlampau asing terhadap kebiasaan atau pun fenomena yang berkembang di sekitarnya. Ketika berita tersebut sudah ditulis dan diwartakan ke ranah publik, pasti dua kubu akan segera terbentuk.
Publik sebagai salah satu unsur penting dalam penelitian arkeologi juga demikian. Mereka punya tanggapan yang cukup beragam ketika berita arkeologi hadir di depan mata. Dalam sebuah status saya mengatakan, arkeologi untuk publik, siap? Ya, kami siap. Tapi publiknya yang kadang tidak siap menerima kenyataan. Kan lelah jadinya. Status itu sebagai refleksi bahwa masyarakat selain menerima juga bisa melakukan resistensi terhadap fakta yang coba akademisi arkeologi ungkap dalam tulisannya.
Resistensi muncul disebabkan banyak faktor, yaitu karena privasi atau kepentingan internal mereka tidak mau diwartakan dan kemudian menjadi konsumsi publik; mereka sudah terlampau nyaman dengan tatanan sekarang; atau antara ekspektasi mereka di masa kini dan fakta masa lalu tidaklah sama. Sayang, sampai sekarang belum diketahui bagaimana respons publik setelah membaca catatan I-tsing yang mewartakan bahwa selain Nalanda ada pusat pengajaran agama Buddha lain yang sama besarnya yaitu Sriwijaya.
Citralekha
Meski penulis kadang mendapat sindiran dan resistensi dari publik sebagai penikmat tulisannya, namun mereka berusaha tetap eksis melalui sejumlah pemikirannya. Di masa klasik seorang penulis akrab disebut citralekha. Pada masa Jawa Kuna keberadaannya ditafsirkan sebagai penulis prasasti, yang dituntut mempunyai keahlian dan pemahaman terhadap jargon dan birokrasi kerajaan. Sehingga sebelum ditetapkan sebagai penulis, mereka harus menjalani serangkaian pendidikan atau pelatihan.
