Monday, May 25, 2026
Home > Literasi > Cerita > Remah-remah Kenangan

Remah-remah Kenangan

Remah-remah Kenangan plus biodata

Aku punya dua buku biografinya, sekarang buku-buku itu kuberikan pada Naya; seseorang yang pernah hadir di sela-sela aktivitasku berolah seni peran. Ia sering menemuiku di Bentara Budaya. Ah, biarkan kenangan itu hilang ditelan kehampaan karena sekarang aku sudah punya pasangan.

Kenangan semacam kecambah, ia pasti bercabang ketika dibasahi dengan perasaan. Tiba-tiba masuk menguliti setiap jengkal syaraf otak yang memang masih enggan melupakan. Sudah berulang kali kusangkal tapi tetap saja hinggap tanpa mau berbelas.

***

SUASANA sudah riuh, para tetangga sedang bergotong-royong membenahi atap rumah Pak Kartiko. Ia adalah seorang pensiunan AKABRI tahun 1978. Meski bapak dua anak itu seorang angkatan namun tetap ramah kepada sesama. Muka garang ciri khas dari pasukan baret merah berusaha dienyahkan. Masa-masa itu sudah purna dan tinggal remah-remah kenangan saja. Hah! Hidup memang selalu berputar dengan dalih melanjutkan kehendak sang waktu. Orang yang dulu terhormat dan ditakuti nyatanya sekarang bisa berbaur dengan nyamannya.

Pak Kartiko pernah bercerita, dulu ketika ia masih bertugas di Bukit Barisan selalu saja rindu dengan masakan emak. Ya emak, sebutan udik tapi suka diucapkan secara lantang sebagai tanda kecintaan seorang anak. Tidak jarang juga harus dengan sabar menghadapi sejumlah aksi unjuk rasa dan segumpal orasi bebal dari kaum intelektual muda.

Muak rasanya melihat hal yang demikian. Unjuk rasa sebenarnya bukan pilihan mutlak untuk mengeluarkan sejumlah perasaan hampa khas anak yang salah asuhan. Tentu itu bukan salah negara, bahkan Marah Rusli pun tak kuasa mencarikan frasa pengganti yang tepat untuk mereka bawa pulang. Bagiku, mereka adalah sekumpulan orang yang kurang kerjaan. Tapi biar saja seperti itu karena hidup kalau tanpa bala Kurawa kurang sedap kelihatannya. Kampret!

Alam sosial yang kurang trengginas serupa genderang reformasi tidak punya simbal dan terompet untuk melengkapi. Seharusnya, sejak awal angkatan 1998 paham bahwa sampai kini reformasi belumlah matang benar. Ia harus digodok berulang-ulang hingga tahan banting dari terjangan krisis kepercayaan. Bukan karena Soeharto mundur, itu hanya nukilan dari misi besar aristokrat negara. Mungkin jika Munir dan Wiji Thukul masih ada, polemik antar penyidik KPK tidak sampai terjadi.

Istriku hampir rampung mengemasi baju baru, sedangkan anak semata wayangku baru pulang dari sekolah. Tempat di mana ia dapat memperoleh sedikit pemahaman betapa hebatnya menjadi generasi milenial sekarang. Berbekal gawai mereka sudah dapat menjelajahi setiap jengkal dunia yang seakan tanpa batas.

Translate »