Perlu diketahui bahwa setiap orang memiliki jin pendamping atau yang disebut dengan Qarin. Jin ini sangat berbeda dengan jin pengusik yang dikirim oleh tukang sihir. Mengapa demikian? Karena ia sudah ada sejak kita lahir di dunia. Sehingga ia kemudian disebut sebagai jin pendamping. Menariknya, seorang penulis bisa mengendalikan si “jin” ini seperti yang ia inginkan. Tentu saja, si jin ini memberikan impuls yang luarbiasa dalam pikirannya.
Tapi tunggu dulu, jin di sini bukanlah jin dalam artian sesungguhnya. Sebab, dalam banyak kasus, jin senantiasa mengganggu hidup manusia. Mereka sering bersekongkol dengan tukang nujum atau penyihir. Itu kenapa mereka meresahkan dan kenapa ada sebuah pengobatan non medis yang disebut dengan ruqyah.
Nah, jin yang sesungguhnya adalah sebentuk makhluk yang menakutkan dan bercokol dalam jiwa manusia. Ia tak hanya merasuk tapi mengusai, bukan hanya jiwa tapi juga raga. Namun, jin dalam tanda kutip di sini adalah sosok makhluk yang senantiasa memberikan dorongan yang kuat agar kita senatiasa produktif menulis. Alangkah lucunya, jika ada yang mengaku ingin menulis tapi tak pernah ada tindakan nyata. Setidaknya misi dari seorang penulis seperti nabi jua: menyampaikan wahyu atau pencerahan. Tapi apa mau dikata, tak semua orang mampu melakukan hal-hal gila tadi.
Itu satu dari alasan kenapa ada orang yang bertahan atau justru runtuh dengan sendirinya di dunia literasi. Coba saja bayangkan jika hidup di era 90-an, rasanya betapa sulit dan melelahkan menjadi seorang penulis itu. Kita harus berjibaku dengan mesin tik dan kertas. Bukan hanya berisik, jari-jari pun menebal serasa jempol semuanya. Belum terhitung jika ada salah ketik. Itu kenapa si juru tik harus memastikan kalimat yang disusunnya adalah benar. Jika tidak, hanya ada dua pilihan: menghapusnya dengan tip ex atau membuang hasil ketikan ke keranjang sampah.
Pada zaman itu email belum berfungsi sehebat seperti sekarang. Kurir terbaik saat itu adalah pegawai kantor pos. Bayangkan jika hasil pemikiranmu ditumpahkan dalam 500 halaman kuarto. Sebelum mengirim ke media sebaiknya harus punya salinan jumlah yang sama sekadar buat arsip pribadi. Lalu apa yang terjadi ketika setelah berhari-hari bergelut dengan mesin tik, kemudian mengalami penolakan dari media atau penerbit? Maka ada dua kemungkinan pula: naskah itu dikembalikan utuh dengan catatan seperlunya, atau tak menerima balasan apapun. Menyakitkan bukan?
Kita bandingkan dengan era digital yang super cepat ini. Cuma sekali klik, maka semua data yang diinginkan datang secepat kilat. Semuanya di-update dan di-upgrade. Termasuk dari era mesin tik ke komputer, kemudian ke laptop yang lebih ringan, simpel, dan menguntungkan. Bahkan, pada sebuah aplikasi yang bernama wattpad, kita hanya perlu android untuk mengetik naskah.
Baca juga: Tradisi Panjat Pinang: Merayakan Kemerdekaan atau Melecehkan Kemanusiaan?
Tak ada alasan lagi si jin pengganggu tadi mempengaruhi untuk malas berkarya. Seperti pesan penulis senior,“Menulislah!”. Rasanya memang benar, tak ada jin yang sangat baik ketimbang yang dimiliki Aladin. Sebab apa? Ia punya lampu ajaib yang bisa sekejap mata mengubah hidupnya.
