Halaman: 1 2
Hasan Aspahani, pemenang utama terpilih HPI 2016 saat diwawancarai puan.co mengatakan, satu hal yang ia suka dari acara HPI di tahun ini, yakni ada delapan puluh komunitas puisi dari berbagai daerah di seluruh Indonesia yang ikut merayakan HPI. Belum pernah sebelumnya ada sejarah perayaan puisi yang sesemarak ini. Teman-teman di daerah bergairah dan bersemangat melakukan kegiatan HPI di daerah sebab ada acara puncaknya. Biasanya kegiatan diskusi buku hanya dilakukan oleh sekitar lima orang saja, namun di acara puncak HPI kali ini, penyair dari berbagai daerah bisa bersua untuk bersilaturahmi.

“Teman-teman penyair di yayasan HPI kini sedang memperjuangkan HPI yang diakui resmi oleh negara. Saya rasa tidak ada alasan untuk menolak dan mencari hari lain selain hari puisi karena teman-teman sangat konsisten memperjuangkannya. Sebab, bisa saja mungkin negara lupa. Sejauh ini, selain teman-teman penyair dan yayasan HPI, belum ada yang mengusulkan dan menginisiasi hari puisi. Insya Allah antara satu atau dua tahun lagi hari puisi nasional bisa diakui oleh negara.” katanya.
Para penyair dengan segala kekuatannya memang begitu gigih memperjuangkan hari puisi, lalu bagaimana dengan hari cerpen atau hari novel? Apakah cerpenis dan novelis Indonesia kelak akan memperjuangkan hal serupa seperti teman-teman penyair? Hasan mengatakan bahwa puisi itu berbeda dengan cerpen dan novel. Di Amerika tidak ada hari cerpen atau hari novel, tetapi hari puisi ada sebab awal dari sastra adalah puisi. Dahulu belum ada cerpen, belum ada novel, belum ada buku cetak, segalanya dicatat dengan manuskrip dan itu pun tidak banyak. Dahulu semua harus dihapal, semua harus diingat. Syairlah yang muncul pertama dengan rimanya yang tertib yang memang mudah diingat dan dihapal, seperti syair perkawinan Kapitan Cina di Singapura, syair Nabi Yusuf yang berisi cerita, dan lain-lain. Jika unsur-unsur puisi itu dibuang, maka jadilah cerpen atau jadilah novel.
