Halaman: 1 2
Meski demikian, Triman Laksana, yang bukunya pernah meraih Juara 1 Nasional dalam Festival Literasi Nasional di Palu 2016 ini, merasa bahagia bisa memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat umum. Walaupun koleksi buku TBM ini masih sangat sederhana dan minim. Juga, pendanaan kegiatan pun masih gotong royong. Meski TBM PDD ini merupakan milik individu, tetapi pengurusnya bukan hanya Triman sendiri. Selain Triman Laksana sebagai ketua, ada Eko Widaryati sebagai sekretaris, dan Mutiara Diva sebagai pengelola TBM.
Kalau berbicara prestasi TBM sendiri, prestasinya belum ada. Hanya saja, gubuk literasi Padepokan Djagat Djawa ini, melalui sekolah menulis dan diskusi sastranya, telah menerbitkan tiga buah buku, yang dua di antaranya merupakan kumpulan cerpen kategori penulis umum berjudul Kluruk (Anatri Endras Sumekar, 2016) dan Siti Musibah (Ki Sudadi, 2017). Sementara antologi puisi anak-anak berjudul AIUEO (2017), penulisnya adalah 50 siswa SD dan SMP se-Kabupaten Magelang Jawa Tengah.

Rekanan TBM PDD hingga saat ini juga belum ada sebab TBM belum berbadan hukum dan belum terdaftar di pemerintah. Hanya dikelola secara swadaya mandiri sehingga belum ada respons dari pemerintah.
Sebagai prinsip pemilik, jika pemerintah memberi bantuan akan tetap diterima, tetapi kalau untuk meminta dan mengajukan proposal, lebih baik tidak. Sebab hal ini seperti mengemis saja. Untuk sebuah langkah baik ini cukup dilakukan dari hal yang paling sederhana dan nyata. Tidak untuk mengeluh dan meminta-minta.
Harapan Triman Laksana sebagai penggiat literasi khusunya di TBM, “Mudah-mudahan dengan menggerakkan TBM di wilayah yang paling kecil, lingkup RT, Insya Allah dunia Literasi akan menjadi berkembang dengan baik dan menggembirakan. Tentunya, semoga generasi muda kita menjadi generasi pembaca buku.”
