Monday, May 10, 2021
Home > Literasi > Cerita > NEMORKARA¹

NEMORKARA¹

NEMORKARA

Tanah kemarau berhamburan, ditindih kaki sapi-sapi kelaparan di pematang. Udara panas menyiram, begitu pula angin sebagai pengantar kabut. Tanah ke mana-mana, menyebar baur debu ke segala isi kawasan Telenteyan. Nemor[2] datang menderai kesenyapan. Sementara bunga-bunga harapan mulai melayu di pembaringan Kara, dalam sapu tangan istrinya yang kuyup dan kusam. Di pelupuk mata itu berkabung cahaya lampu damar dan sorotannya yang hanya cukup menyinari amper rumah, samar-samar terlihat, Nurjannah mendekap suaminya. Setiap kilatan mata Kara memenuhi kelopak matanya. Tak tahan, titik-titik air ikut berdesak bocor. Ya Allah, rahmatilah suamiku, tabahkan hatinya. Sambil terisak lirih.

Di mana Kara terlentang, tubuh kurusnya seperti sebuah barisan tulang yang hanya terbungkus kulit. Sudah 6 tahun berjalan, penyakit yang dideritanya itu tak kunjung sembuh. Dari dhukon[3], tukang ramal, habib hingga dokter yang pernah didatangi tak pernah memberikan kesimpulan jelas, penyakit apa sebenarnya yang diderita Kara. Mereka semua berbeda-beda penjelasan mengenai itu, ada yang mengatakan, panarajhut, parobu, seleb[4] dan macam-macam. Begitu pula ramuan, obat, air minum dan segala macam sarat sudah dicari kemana-mana, ke tempat keramat, ke polo[5] tak berpenghuni di tasek mereng[6] dan sudah berpuluh-puluh kota didatangi, tak pernah didapati obat mujarob dan mengenai untuk penyembuhan Kara.

***

Penyakit napa sebenarnya yang menimpamu, Kak…?” Istrinya selalu meratap. Begitu pula dua anaknya yang beberapa waktu lalu sudah putus sekolah karena tidak ada yang  menanggung biayanya lagi. Sedang ibu Kara sendiri sudah terlihat lemas di kamar sebelah. Belum lagi tetangga yang berambisi menggunjing-gunjingkan penyakit yang dideritanya selama ini. Celetuk-celetuk tetangga mengumbar.

“Kara kena santet!”

“Bukan, kodheka!”

Seher!

“Lihat, makanan saja sudah tak bisa masuk ke mulutnya”

Facebook Comments